Akhirnya AKU Tahu Bagaimana Rasanya Tanpa DIRIMU

Ketika bumi dan langit tak dalam satu frekuensi, jarak yang begitu jauh membuat diri ini diam tak bergerak. Mengejarnya pun percuma, dia sudah pergi jauh menikmati keindahan yang lain.

Pernahkah tuk berfikir bahwa kita adalah satu, kesatuan yang dipersatukan dengan yang namanya ‘hubungan’? kita sama-sama tidak tau, apakah kau adalah tulang punggungku dan aku adalah tulang rusukmu. Tapi kita sama-sama berusaha untuk itu. Ku berharap kau yang terakhir, kau pun berfikir begitu. Kenyataannya? Pupus sudah semua itu!


Ahh! Sudahlah.. ini hanya suatu hubungan yang belum di sah kan. Mengabaikan? Bukan, menganggap enteng? Apalagi itu. Anggap saja ini sebuah pembelajaran tuk kedepan. Walau waktu sudah kebuang banyak dengan hal yang tak berguna, walau komitmen bersama tidak dijalankan, dan akhirnya semua itu berakhir.


Aku tahu itu rasanya sangat pahit. Kenangan yang telah dijalankan seakan hanyalah sebuah drama. Drama untuk memperindah kehidupan, tapi apa daya jika Tuhan tak mengizinkan. Dan sebuah drama itupun berakhir, berbagai episode dijalankan dengan penuh lika-liku, setiap lembah dan puncak dilalui, setiap jalan mulus dan berlubang di hadapi.


Tapi tak berusaha menyesali itu, keputusan itu bagiku sangat tepat walau berat tapi mulus. Hati dan fikiran mulai berbeda kehendak, mencoba mengedepankan ego masing-masing. Tapi ku tau bahwa hati lah yang paling tepat. Ketika dua hati tak dapat satu frekuensi, maka gelombang yang dihasilkan pun berbeda-beda dan sinyal yang ditangkap takkan lagi sama. Ketika semua tak lagi sama maka menyatukannya pun akan sangat rumit, mengembalikan kondisi awal pun akan susah dan berbeda.


Waktu terus berjalan, menelusuri bibir pantai, ombak pun kian menerjang tapi kau tahu? Bahwa ku tak pernah sedikitpun sedih atau galau kehilangan apa yang pernah menjadi milikku. Heran kah? Haha.. mungkin akan berfikir ‘semudah itukah dia melepaskan semua itu?’, jika boleh kujawab, ya! Dengan seizinNya ku lalui itu semua, melepaskan yang pernah ada. Karena dengan seizinNya lah aku mengetahui sebuah kebenaran yang selama ini tak ku tahu. Pahit bukan?


Dan akhirnya ku tahu bagaimana rasanya tanpa dirimu, bagaikan burung terbang bebas menikmati alam nya. Ku tahu bahwa ku telah lewati waktu dengan sia-sia, tapi tetap mencoba tuk tidak menyesali, tetap dijadikan sebagai sebuah pembelajaran untuk bisa menjadi dan mencari yang lebih baik.. dan kau tahu? Dari itu semua aku belajar bahwa…….

Kasta tertinggi dalam mencintai ialah menghalalkan dan atau.. melepaskan

Komentar